PADI DAN TEKNOLOGI MASA KINI
Nama : BINTANG FELIN PATRALAKSANA
Nim : 16.62.9236
Kelas : 16-Bachelor of Informatics
UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Abstrak
Selama ini
produksi padi nasional masih mengandalkan sawah irigasi, namun ke depan bila
hanya mengandalkan padi sawah irigasi .
Salah satu
tantangan dalam pembangunan pertanian adalah adanya kecenderungan menurunnya
produktivitas lahan. Disisi lain sumberdaya alam terus menurun
sehingga perlu diupayakan untuk tetap menjaga kelestariannya. Demikian pula
dalam usahatani padi, agar usahatani padi dapat berkelanjutan, maka teknologi
yang diterapkan harus memperhatikan faktor lingkungan, baik lingkungan fisik
maupun lingkungan sosial, sehingga agribisnis padi dapat berlanjut.
Karya ilmiah ini dibuat dengan tujuan untuk memberi
informasi kepada pembaca dalam membuat atau menghasilkan uang dengan cara
membuat bisnis kecil sebagai peluang usaha yang menguntungkan. Sekarang ini tidak
banyak orang yang yang kreatif dalam menciptakan inovasi baru Dewasa ini
berbagai jenis benih unggul yang dijual berbagai pengusaha sangatlah banyak
diminati oleh kalangan pengusaha di kota Besar maupun kecil.
ISI
Salah
satu strategi dalam upaya pencapaian produktivitas usahatani padi adalah dengan
menerapkan inovasi teknologi yang sesuai dengan sumberdaya pertanian disuatu
tempat, termasuk usaha tani di wilayah Nusa Tenggara Barat. Teknologi usaha
tani yang dilakukan tersebut dirakit dengan menggunakan pendekatan pengelolaan
tanaman terpadu atau yang biasa disingkat dengan (PtT). Disini yang dimaksudkan
adalah suatu pendekatan inovatif dalam upaya peningkatan efisiensi usahatani
padi dengan menggabungkan komponen teknologi yang memiliki efek sinergistik
yang artinya tiap komponen teknologi tersebut saling menunjang dan memberikan
pengaruh yang lebih baik terhadap pertumbuhan dan produktivitas tanaman.
Sebelum
melakukan proses tanam dengan menggunakan sistem PPT, tanaman padi yang akan ditanam
harus memiliki syarat untuk pertumbuhannya yaitu pada lahan yang basah atau
sawah irigasi, curah hujan saat ini bukan merupakan faktor pembatas tanaman
padi, akan tetapi pada lahan kering tanaman padi membuthkan curah hujan yang
optimum lebih dari 1.600 mm/tahun. Penerapan PTT harus berdasarkan empat
prinsip, yaitu terpadu, sinergis, spesifik lokasi dan partisipatif yang artinya
agar komponen teknologi yang dipilih sesuai dengan kebutuhan setempat, maka
proses perakitannya didasarkan pada hasil kajian kebutuhan dan peluang. Untuk
itu, komponen teknologi dasar PTT yaitu menggunakan varietas padi unggulan atau
varietas padi berdaya hasil tinggi dan atau bernilai ekonomi tinggi, benih yang
bermutu dan berlabel serta pemupukan berimbang berdasarkan kebutuhan tanaman da
status hara tanah dan cara pengendalian hama dan penyakit secara terpadu.
Komponen
yang dibutuhkan dalam penerapan PTT yaitu penanaman padi yang berumur masih
muda dengan jumlah bibit terbatas anatara 1-3 bibit perlubang. Perlu disarankan
menggunakan Varietas unggul baru yang dapat mampu beradaptasi dengan lingkungan
untuk menjamin pertumgbuhan tanaman yang baik, dengan itu hasil yang diinginkan
dan kualitas baik serta rasa nasi diterima dipasar. Benih yang bermutu adalah
benih yang daya tumbuhnya tinggi dan bersertifikat.
Persiapan
lahan dapat dilakukan secara sempurna (2 kali bajak dan 1 kali garu) atau olah
tanah minimal atau tanpa sesuai keperluan dan kondisi. Faktor yang menentukan
adalah kemarau panjang, pola tanam, jenis atau tekstur tanah. Dua kali dalam
seminggu sebelum pengolahan tanah taburkan bahan organik secara merata diatas
hamparan sawah. Bahan organik yang digunakan berupa pupuk kandang sebanyak
2ton/ha atau kompos jerami sebanyak 5 ton/ha.
Pemupukan
dengan cara pemberian berbagai unsur
hara dalam bentuk pupuk untuk memenuhi kekurangan hara yang dibutuhkan tanaman
berdarkan tingkat hasil yang ingin dicapai dan hara yang tersedia dalam tanah. Agar
pemupukan efektif dan efisien, penggunaan pupuk disesuaikan dengan kebutuhan
tanaman dan ketersediaan hara dalam tanah. Kebutuhan tanaman dapat diketahui
dengan cara mengukur tingkat kehijauan warna daun padi menggunakan bagan warna
daun.
Berikut
akan saya lampirkan beberapa jenih benih pilihan para petani :
Inpari 31, 32 dan 33
Memilih
beniih unggul tentunya sudah menjadi keseharian para petani di Indonesia
termasuk varietas yang satu ini yaitu Inoari 31 32 dan 33. Varietas ini sengaja
dirakit untuk menghadapi berbagai serangan OPT utaman padi seperti penyakit
kresek/Xanthomonas dan wereng batang coklat yang insentisitasnya semakin tinggi
akibat perubahan iklim di Indonesia sehingga diharapkan dengan hadirnya
varietas yang baru ini mampu membantu petani memperoleh varietas padi unggul
baru yang tahan terhadap hama dan penyakit. Untuk lebih jelasnya mari kita
bahas satu persatu varietas padi inpari 31-33 sebagai berikut :
Yang
pertama adalah Varietas Inpari 31, varietas berikut ini memiliki umur tanaman
sekitar kurang lebih 112 hari setelah sebar, memiliki bentuk tanaman yang
tegak, warna gabah kuning bersih. Varietas ini memiliki ketahanan terhadap hama
dan penyakit wereng batang coklat biotipe 1 2 3 serta tahan terhadap hawar daun
bakteri patotipe III, agak tahan terhadap hawar daun bakteri patotipe IV dan
VIII, tahan terhadap blas o33, agak tahan terhadap blas ras 133 serta tahan
terhadap tungo ras Lanrang, anjuran untuk penanaman bibit ini cocok ditanam
diekosistem sawah dataran rendah sampai ketinggia 600mdpl.
Yang
kedua adalah varietas Inpari 32, varietas ini memiliki umur tanam sekitar
kurang lebih 120 hari setelah sebar, memiliki bentuk tanam yang tegak dan
ketinggian tanaman mencapai kurang lebih 97cm. Varietas yang satu ini memiliki
warna gabah yang kuning dan bersih serta kerontokan yang sedang, varietas
Inpari 32 ini memiliki ketahanan terhadap penyakit wereng batang coklat biotipe
1,2 dan 3, tahan terhadap hawar daun bakteri petotipe III, agak tahan terhadap
hawar daun bakteri petotipe IV dan VIII, tahan terhadap penyakit blas ras o33,
agak tahan terhadap blas ras 073, serta agak tahan terhadap tungro ras lanrang.
Untuk menanam varietas inpari 32 ini dianjurkan tanam dengan cocok ditanam
diekosistem sawah dataran rendah sampai ketinggian 600 mdpl.
Yang
ketiga adalah Inpari 33, varietas yang satu ini tidak beda juga dengan varietas
inpari 31 dan 32, yang membedakannya adalah umur tanam varietas ini memiki umur
tanam kurang lebih 107 hari setelah sebar, memiliki bentuk tanaman yang tegak,
tinggi tanaman mencapai kurang lebih 93 cm dan memiliki warna gabah kuning
bersih sama seperti inpari 31 dan 32. Varietas ini memiliki ketahanan terhadap
hama wereng batang coklat biotipe 1, 2 dan 3. Dan memiliki ketahanan terhadap
penyakit hawar daun bakteri petotipe 3, agak tahan terhadap petotipe VIII, agak
tahan blas ras 033, tahan ras 073 serta rentan tungro. Untuk varietas yang satu
ini juga memiliki anjuran tanam sama seperti inpari 31 dan 32 yaitu ditanah
ekosistem tanah dataran rendah sampai ketinggian 600mdpl.
KESIMPULAN
Teknik pengolahan tanah yang baik sangat diperlukan untuk
mendapatkan hasil yang sesuai dengan harapan. Hal ini harus dimulai dari awal,
yaitu sejak dilakukan perbaikan pematang/galengan sampai perataan. Dalam proses
tahapan pengolahan tanah harus diperhatikan dengan baik dan benar.
REFERENSI









0 comments:
Post a Comment